budapestbang.com merupakan situs pemberi informasi tentang travel, rumah minimalis, tips, masakan, otomotif dan masi banyak lainnya.

Wednesday, April 21, 2021

Sejarah Jalan Riau dari Masa ke Masa

Bandung, kota dengan sejuta kenangan, memang benar adanya. Pasalnya, di setiap sudut Kota Bandung tersimpan segudang sejarah dari zaman kolonial Belanda. Hal ini terlihat dari bangunan-bangunan khas kolonial yang masih berdiri sampai sekarang, hanya fungsinya saja yang sudah berbeda. Sebut saja factory outlet Heritage yang berada di Jalan Riau, atau yang kini lebih dikenal dengan nama Jalan L. L. R. E. Martadinata. Bangunan dengan gaya arsitektur art deco ini didirikan pada tahun 1898. Dahulu, Heritage merupakan rumah dinas direktur Gouvernement Bedrijven (Pusat Instansi Pemerintah) yang kemudian pindah ke Departement Verkeer en Waterstaat (Departemen Transportasi, Pekerjaan Umum, dan Manajemen Air) dan kini dikenal sebagai Gedung Sate. Oleh karena itu, menginap di hotel dekat Jalan Riau Bandung adalah pilihan yang tepat bagi kamu yang suka dan ingin menyelami sejarah.

Sejarah Jalan Riau dari Masa ke Masa

Untuk mengetahui lebih banyak tentang sejarah Jalan Riau. Yuk, simak ulasan berikut ini!

Masa Kolonial Belanda

Jalan Riau dulunya bernama Riouwstraat. Pada zaman kolonial Belanda, area ini merupakan kawasan perumahan elite untuk orang-orang Eropa. Sehingga, jalan ini disebut sebagai Europeesche Zakenwijk atau wilayah pusat kegiatan masyarakat Eropa. Di jalan ini pula pernah berdiri Konsulat Inggris.

Riouwstraat pada saat itu direncanakan menjadi lahan hijau dan hunian masyarakat Belanda. Karenanya, di sana terdapat beberapa taman, yaitu Tjitaroemplein (Taman Citarum) dan Oranjeplein (Taman Pramuka). Taman-taman ini sengaja dibangun di sekitar perumahan mewah orang-orang Eropa karena akan menentukan harga jual rumah kala itu. Tak ayal, Oranjeplein berada di ujung tenggara Riouwstraat dan hunian di sekitar Oranjeplein disebut sebagai Kapitein Hill.

Masa Penjajahan Jepang

Beralih ke zaman penjajahan Jepang, Oranjeplein, yang kini bernama Taman Pramuka, bersama dengan kawasan Supratman merupakan lokasi penawanan orang-orang Eropa saat Jepang menduduki Hindia Belanda. Selama Jepang berkuasa, beberapa bangunan juga beralih fungsi menjadi benteng dan pos penjagaan tentara Jepang.

Setelah Kemerdekaan

Seiring berjalannya waktu, Indonesia memproklamasikan kemerdekaanya. Aset-aset Belanda diambil alih oleh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI); termasuk bangunan di sepanjang Jalan Riau yang berubah menjadi wisma, rumah dinas militer, dan pos. Setelah terjadi krisis moneter tahun 1998, Jalan Riau mulai dikenal sebagai pusat fesyen masyarakat yang identik dengan factory outlet.

Hingga kini, Jalan Riau atau Jalan L. L. R. E. Martadinata termasuk dalam sub-kawasan konservasi cagar budaya. Jalan L. L. R. E. Martadinata sendiri diambil dari nama seorang mantan Menteri Angkatan Laut Republik Indonesia, yaitu Laksamana Laut Raden Edi Martadinata.

Bagaimana? Sebutan Bandung adalah kota kenangan bukan hanya penamaan biasa, bukan? Kamu akan melihat sebuah tempat dengan pandangan yang berbeda ketika sudah mengetahui sejarah tempat tersebut. Ketika kamu menyusuri Jalan Riau di Bandung, lihatlah sekitar dan bayangkan kamu sedang berada di abad ke-19. Menarik, ya! Semoga ulasan ini dapat menambah pengetahuan sejarahmu.

No comments:

Post a Comment